Beranda / Berita Papua / Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Masih Paling Rendah
Anak-anak Panti Asuhan "Shalom", Distrik Arso, Kabupaten Keerom (foto HarianPapua.com)

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Masih Paling Rendah

-->

HarianPapua.com – Badan Pusat Statistik mencatat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia tahun 2016 telah mencapai angka 70,18 atau masuk ke dalam kategori tinggi. Angka ini meningkat sebesar 0,63 poin dibanding IPM tahun 2015 atau 3,65 poin dibanding 6 tahun yang lalu.

Namun ternyata, peningkatan IPM Indonesia tidak diiringi oleh kualitas hidup yang merata di setiap daerah. Bahkan masih ada daerah yang kualitas hidupnya masih rendah, yakni Provinsi Papua dengan IPM mencapai 58,05. Jumlah ini berbanding terbalik dengan IPM di Provinsi DKI Jakarta yang mencapai 79,60.

“Progres IPM bagus dari tahun ke tahun, tapi masih ada ketimpangan antar provinsi. Kita masih ada persoalan di ketimpangan, karena disparitas antar provinsi masih tinggi,” kata Kepala BPS, Suharyanto ditemui dalam jumpa pers di kantornya, Senin (17/4/2017).

Ada 12 provinsi yang IPM nya termasuk tinggi, 21 provinsi dalam kategori sedang, dan satu provinsi masih rendah, yaitu Papua.

Jika dilihat dari komponen IPM nya, seperti angka harapan hidup saat lahir, harapan lama sekolah, rata-rata lama sekolah, hingga pengeluaran per kapita, seluruhnya memang menunjukkan peningkatan. Namun apabila dilihat rentang atau disparitas antar provinsi terendah dan tertinggi, memperlihatkan masih adanya kesenjangan yang cukup tinggi.

Pada tahun 2016, IPM pada level provinsi berkisar antara 58,05 (Papua) hingga 79,60 (DKI Jakarta). Pada dimensi umur panjang dan hidup sehat, angka harapan hidup saat lahir berkisar antara 64,31 tahun (Sulawesi Barat) hingga 74,71 tahun (DI Yogyakarta). Sementara pada dimensi pengetahuan, harapan lama sekolah berkisar antara 10,23 tahun (Papua) hingga 15,23 tahun (DI Yogyakarta), serta rata-rata lama sekolah berkisar antara 6,15 tahun (Papua) hingga 10,88 tahun (DKI Jakarta).

Suharyanto mengatakan, disparitas bahkan menjadi lebih memprihatinkan ketika dilihat sampai ke level kabupaten.

“Kalau dilihat per kabupaten, ada ketimpangan yang sangat lebar. Di Papua misalnya, ketimpangan IPM antar kabupaten menjadi banyak. Misalnya Jayapura IPM nya tinggi, tapi kabupaten lain seperti Nduga itu baru 26,56. Jadi ketimpangan region masih menjadi PR besar untuk Indonesia,” pungkasnya.

Tentang Rikardo Kaway

Oktober 1992, Jalan-jalan dan nonton bola. Pendukung Persipura dan penggemar Arsenal.